Rabu, 26 Mei 2010

KRONOLOGIS KERICUHAN
RAPAT SIDANG PARIPURNA BANK CENTURY

posting asli klik di sini

Usai ketua Pansus Century, Idrus Markham membacakan laporan akhir Pansus, suasana sidang paripurna DPR mulai riuh. Berbagai interupsi dari anggota DPR akhirnya membuat suasana sidang agak tegang.
Interupsi pertama disampaikan anggota Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo yang menyampaikan bahwa ada keterlupaan dalam pembacaan hasil sidang Pansus semalam. Menurutnya, hal yang terlupakan itu adalah sidang paripurna hari ini hendaknya bisa langsung mengambil keputusan akhir Pansus Century dan tanpa melalui pandangan fraksi.
“Sidang hari ini, seperti kesepakatan semalam, bisa mengambil keputusan akhir tanpa adanya pandangan dari fraksi-fraksi,” ujar Bambang yang agak membuat Marzuki Alie seperti terperanjat.
Sesaat kemudian, seorang anggota Fraksi Demokrat tiba-tiba menyampaikan interupsi lain. Menurutnya, sesuai dengan tatib DPR dan kesepakatan Bamus DPR semalam, bahwa hari ini sidang hanya mengagendakan pembacaan laporan kerja Pansus.
Setelah itu, seorang anggota DPR dari Fraksi PDIP pun menyampaikan pendapat bahwa sidang jangan ditutup sebelum ada keputusan, karena apa yang disampaikan dalam laporan Pansus hanya berisi opsi kesimpulan yang harus dituntaskan hari itu juga.
Sejak itulah, Marzuki Alie mulai kerepotan dengan berbagai interupsi. Ia mempersilakan Akbar Faisal, anggota Fraksi Hanura untuk menyampaikan interupsi. Intinya, sama dengan apa yang disampaikan Bambang Soesatyo bahwa keputusan akhir harus diambil hari ini juga.

”Kalau bisa mengambil keputusan hari ini, kenapa harus menunggu hari esok. Kalau bisa dengan cara mudah, kenapa harus disusah-susahkan,” begitu kira-kira ucapan Akbar dalam interupsinya.
Dalam keriuhan anggota sidang lain yang minta interupsi, tiba-tiba salah seorang anggota Fraksi Demokrat menyampaikan interupsi yang disetujui Marzuki Alie. Anggota FD itu pun menyampaikan sebuah dokumen yang dikatakannya sebagai novum atau bukti baru kasus Bank Century.
Marzuki Alie mempersilakan anggota FD itu maju ke depan sidang untuk menyampaikan dokumen ke pimpinan sidang. Saat itulah, suasana sidang kian tak terkendali. Salah seorang anggota FD lain menegaskan bahwa agenda sidang harus sesuai dengan undangan dan hasil rapat Bamus.
Dengan mengabaikan berbagai interupsi, di luar dugaan yang hadir termasuk para wartawan, tiba-tiba Marzuki Alie menyampaikan penutupan sidang.
Beberapa anggota DPR langsung berjalan cepat menuju pimpinan sidang untuk menyampaikan protes. Teriakan-teriakan di dalam sidang pun terus bersahut-sahutan. Antara lain, ”Marzuki Alie otoriter! Pimpinan sidang harap mengambil alih sidang!” Dan lain-lain.
Kerumunan pun tidak bisa terbendung persis di hadapan pimpinan sidang. Para anggota keamanan sidang mulai memagari diri mereka untuk melindungi pimpinan sidang.
Ketika pihak keamanan akan mengevakuasi Marzuki Alie, tiba-tiba podium diambil alih oleh Akbar Faisal. Ia akan menyampaikan sebuah aturan yang isinya bahwa sidang paripurna kedudukannya lebih tinggi dari rapat Bamus. Tapi, sebelum apa yang disampaikan Akbar usai, beberapa orang anggota DPR mengamankan Akbar.
Beberapa saat kemudian, terlihat bibir Akbar Faisal seperti berdarah. Seorang ketua Fraksi Hanura langsung melindungi Akbar. Ia menyampaikan bahwa Akbar telah dipukul seseorang.
Dalam suasana ricuh itu, para pimpinan fraksi langsung mengumumkan masing-masing anggotanya untuk keluar sidang dan melakukan rapat di ruangan lain.
Setelah ruang sidang paripurna mulai sepi dari kerumunan anggota DPR, wakil pimpinan sidang yang antara lain, Priyo Budi Santoso, Anis Matta, Pramono Anung, tampak berbicara serius. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengadakan rapat pimpinan mendadak usai dari ruang sidang paripurna.
Seperti yang disampaikan Maruarar Sirait atau Ara, pimpinan sidang berencana akan melanjutkan sidang jam dua siang itu.



JEFRI VAN NOVIS

JURAGAN BRA YANG MENJADI PENGUSAHA
TOUR DAN TRAVEL.
Semua berawal dari kegigihannya menjual pakaian dalam wanita,kini bisnis Jefri terus berkembang. Setelah sukses mengembangkan usaha biro perjalanan di pasar grosir Aur Kuning di Bukittinggi, kini ia merangsek ke pusat grosir dunia di Tanah Abang Blok A, Jakarta.
Dalam bahasa Spanyol, Bonita berarti wanita jelita. Begitu tersebut tak bisa dipisahkan dari Jefri Van Novis, pria lajang kelahiran Buktitinggai. Ke mana-mana ia selalu membawa pakaian dalam wanita. Bahkan di pasar grosir Aur Kuning di Buktitinggi dan berbagai pasar di Padang, Sumatra Barat, Jefri identik dengan Bonita.
Ia selalu membawa-bawa pakaian dalam wanita. Bukan berarti dia banci, itu hanya karena urusan bisnis. Pastinya, bisnisnya adalah jual beli produk pakaian dalam wanita bermerek Bonita. Bisnis ini ditekuninya sejak ia masuk perguruan tinggi.
Usai tamat SMU, Jefri yang termasuk murid terpandai disekolahnya ini tak terlalu yakin ia bisa melanjutkan studi ke universitas. Meski begitu, ia tetap mengikuti SPMB dan mengincar salah satu fakultas terfavorit di perguruan tinggi terfavorit di Sumatra Barat dan berhasil lolos. Senang dan bangga, namun membersit juga rasa khawatir untuk membayar biaya kuliah yang terbilang mahal bagi keluarganya, serta biaya hidup selama k uliah di Padang. Maka munculah gagasan untuk berkuliah sambil berdagang. Semua keluarganya mendukung pilihan ini. Apalagi keluarga mereka memang berlatar belakang pedagang.

Maka jadilah Jefri pedagang produk pakaian dalam wanita-merek Bonita, yang diproduksi kakak sepupu di Jakarta. Modalnya adalah tekad dan kepercayaan dari kakak sepupunya, karena Jefri tak memiliki memiliki modal sepeser pun. Ia mendapat kredit selama satu minggu. Jadi produk yang diambilnya baru dibayar seminggu kemudian.
Untuk mencari uang guna membayar uang masuk kuliahnya, Jefri langsung bergerak memasarkan produk bagi kalangan menengah ke bawah di pasar Aur Kuning, Bukittinggi, Sumatra Barat. Lokasi pasar ini sangat strategis dan ramai, banyak pedagang dari daerah-daerah lain yang datang berbelanja ke pasar ini untuk didistribusikan ke kota lain .
Jefri memang tipikal orang Minang asli, ulet dan pantang menyerah. Ia langsung memasarkan produk dan semua peluang dijajalnya. Semua toko di Padang ditawarinya. Selain memasok toko grosir, juga memasarkan ke pedagang eceran dan kaki lima dengan harga yang berbeda, sehingga ia mendapatkan margin lebih besar lagi.
Tanggapannya sangat beragam. Ada yang suka dan memuji, ada juga yang meremehkan produk mereka. Namun itu tak mampu mematahkan semangatnya. Ia menawarkan ke ratusan toko, maka jumlah toko yang berkenan membeli produknya pun cukup banyak.
Ke kampus pun ia tak ragu membawa barang dagangannya ini dan menawarkannya kepada rekan kuliahnya. Sambutannya pun beragam. Julukan bagi Jefri malah membuat dagangannya kian dikenal. Bahkan ketika usahanya kian berkembang, koleganya yang sempat melecehkan malah berbalik salut kepadanya.
Meski sangat sibuk berbisnis, bukan berarti kuliahnya diabaikan. Bahkan Jefri mampu menyelesaikan studinya dengan IPK terbilang tinggi. Untuk bisa menyelesaikan kuliah dan berbisnis dengan baik, Jefri memang harus disiplin membagi waktunya. Tiap Senin hingga Jumat, pagi sampai sore kuliah, setelah itu berkeliling pasar Padang menagih pembayaran produknya. Jumat sore menyetorkan uang sekaligus mengambil produk baru untuk dipasarkan. Disela-sela kepadatan jadwalnya ia masih menyempatkan kursus bahasa Inggris. Ini merupakan modal penting dalam mengahadapi persaingan global.
Usai berkuliah, Jefri masih tetap memasok barang, membantu kakaknya berdagang. Sambil membantu kakaknya ia mempelajari seluk-beluk pasar grosir terbesar di Sumatra Barat dan mencoba potensi-poyensi bisnis yang bisa digali dari jejaring yang dikembangkannya disana.
Akhirnya tahun 2006 setelah merasa mantap, ia pun membangun bisnis yang terpisah dari sang kakak. Bisnis pakaian dalam ditinggalkan, semua pelanggannya diserahkan kepada kakaknya. Namun ada satu yang tak bisa dilepasnya yaitu nama Bonita, yang dipandangnya sudah melekat dengan personal brandnya dan membawa hoki. Perusahaannya yang bergerak di industri perjalanan dan wisata diberi nama Bonita Tour and Travel. Perusahaan ini terutama melayani pemesanan tiket pesawat udara untuk tujuan ke dalam dan ke luar negeri.

Dengan modal yang tidak terlalu banyak, Jefri merintis usaha barunya dengan menjadi subagent penjualan tiket pesawat. Setelah setahun menjadi subagent, Jefri bisa mewujudkan keinginanya menjadi agen resmi. Sebagai agen resmi, ia bisa menikmati komisi penuh, serta mendapat sejumlah intensif lainnya.
Pada April 2007 ia menggandeng sang kakak untuk mendirikan PT sebagai syarat untuk bisa menjadi agen resmi. Disini pun ia merangkak dari bawah. Karena modalnya terbatas, ia hanya bisa mengajukan dari bawah. Berawal dari Mandala Airlines, lalu Batavia Air. Namun berkat kegigihan menjual tiket, kemudian satu demi satu penerbangan lainnya seperti Garuda Indonesia mulai mempercayakan penjualan tiket mereka kepada Bonita.

Potensi bisnis di sector ini terbilang besar. Orang Minang yang dikenal perantau dan kerap bepergian ke seantero Nusantara bahkan mancanegara untuk berniaga dan menggerakkan roda bisnis mereka. Dengan jejaring luas di kalangan pedagang besar dan grosir di Pasar Aur Kuning, Jefri bisa meraup peluang itu. Hubungan baik dengan sejumlah perusahaan dan instansi pemerintah membuat banyak yang memesan tiket kepadanya. Bahkan ia juga meraih kepercayaan dari Jabatan, karena mampu memberikan layanan yang memuaskan kepada tiga rombongan dari Malaysia yang berkunjung ke Bukittinggi.
Jefri mengaku,persaingan antar maskapai penerbangan amat ketat, maka jika kita geluti secara serius lama-lama pelanggan makin banyak dan hasilnya pun makin banyak. Selain menjual tiket perjalanan udara seluruh maskapai penerbangan domestic dan sebagaian penerbangan internasional, kini Bonita menjual paket perjalanan waisata, perjalanan biadah umrah, haji ONH plus, serta rental mobil dan voucher hotel.

Berbeda dengan kebanyakan biro perjalanan di Bukittinggi dan sekitarnya, yang sekedar menyediakan tiket, Bonita Tour and Travel member sejumlah nilai tambah. Kesungguhan Jefri membesarkan Bonita terlihat dari berbagai upaya promo yang dilakukannya. Seluruh ilmu yang dipelahari di perguruan tinggi, dan yang dipetiknya dari pengalaman langsung berbisnis sejak semester pertama kuliah diterapkannya.
Jefri tak ragu menyebarkan 2 ribu brosur ke berbagai toko di Aur Kuning dan menggencarkan promosi dengan berbagai media, seperti dari mulut kemulut, media cetak, radio, dan membuka stand di berbagai pameran usaha.
Sukses di kota asalnya, Jefri merentangkan sayapnya ke Jakarta dan kota lainnya. Misal, ia membuka cabang di Pasar Blok A, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lokasi ini sangat strategis karena merupakan pusat bisnis grosir yang melayani seluruh Indonesia juga ekspor dan impor. Bisa dipastikan kebutuhan tiket ke berbagai penjuru dunia terbuka luas.
Namun berbeda dengan di Aur Kuning dan Bukittinggi yang pasarnya telah dikuasainya dengan baik, Jefri harus bekerja keras lagi karena banyak biro perjalanan lainnya yang telah menancapkan kukunya lebih dulu. Namun Jefri tak kehabisan akal. Pelanggan mereka yang selama ini membeli di Bukittinggi banyak yang berdagang disini. Merekalah yang menjadi target awal. Pelanggan baru yang membeli disini pun cukup banyak.
Jefri juga ingin membesarkan bisnisnya ke bidang terkait. Lingkup usaha seputar bisnis ini memang masih sangat potensial untuk digali. Untuk sasaran jangka pendek, ia mengembangkan layanan jasa pengiriman, juga berniat masuk ke usaha penukaran uang (money changer).
Seiring dengan itu, angannya pun melambung. Impian terbesar Jefri adalah membangun perusahaan penerbangan Bonita Air. Dan seiring dengan itu bisnisnya pun terus membumbung tinggi, lebih tinggi dari pesawat yang tengah terbang di udara.
sumber : Rhenald Kasali, 2010, "Wirausaha Muda Mandiri, Ketika Anak Sekolah Berbisnis", PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

SINTA - ISTANA KERIPIK IBU MERY

WUJUDKAN MIMPI-MIMPI
DARI KERIPIK PISANG

BANYAK ANAK INDONESIA YANG KURANG BERUNTUNG, mereka harus membantu kedua orangtua untuk mencari nafkah. Ada yang mengaso, mengamen atau pun jualan koran. Jika beruntung mereka bias membiayai sekolah. Banyak yang bermimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi, tapi mereka harus bisa mengelola waktu serta uang yang mereka dapatkan. Asalkan mau berusaha pasti bisa.
Itulah yang dialami oleh Sinta yang lahir di Teluk Bentung, 26 Oktober ini. Dilahirkan dikeluarga yang kurang mampu justru membuatnya menjadi seorang pengusaha hebat. Ia termasuk beruntung karena bisa mengejar ilmu hingga ke tingkat universitas. Berawal dari keinginan untuk menambah uang saku, bisnis yang diawalinya dari kecil-kecilan malah membuatnya jadi jutawan.


MEMANFAATKAN PRODUK LOKAL
Ia paham bahwa keluarganya bukan orang berkecukupan materi. Semua berawal ketika ia duduk dibangku SMA kelas 2, ia merasa harus membantu kebutuhan keluarganya. Pilihannya ialah bekerja di sebuah pabrik pisang. Sepulang sekolah ia bekerja disana selama 6 bulan dengan tekun dan mendapatkan upah yang cukup untuk membantu keluarganya.
Sambil bekerja ia juga mempelajari banyak ilmu dalam hal membuat kripik pisang, mulai dari memilih pisang yang baik, cara mengiris dan menggoreng sampai memberikan varisai rasa. Sinta yang kuliah di fakultas Ekonomi, Universitas Lampung ini juga mulai memikirkan dan menghitung secara sederhana omzet yang dihasilkan dibidang itu.
Lampung memang terkenal dengan berbagai makanan olahan dari pisang seperti kripik pisang. Rasanya yang dulu hanya gurih asin, kini dikembangkan menjadi lebih bervariasi. Itulah yang membulatkan tekad Sinta, bermodalkan uang sebanyak 3 juta ia memulai usahanya. Modal itu digunakan untuk membeli bahan-bahan dasar dan peralatan masak. Tak hanya bahan baku pisang saja yang ia coba olah tapi juga hasil bumi lain seperti singkong, ubi jalar, talas dan sukun.
Awal bisnis yang digeluti tidaklah semudah mimpinya, ada masalah yang harus dihadapinya. Pertama adalah standar kualitas bagi para pengusaha keripik pisang, Sinta pun akhirnya dapat menetapkan standar itu pada produknya. Kedua ialah masalah pemasaran, Sinta tidak tahu dimana ia akan memasarkan, karena hampir semua tempat di Lampung sudah ada kripik pisang. Untunglah Sinta memiliki saudara dan dua orang teman yang dapat membantunya dan mengerti akan pekerjaannya. Kedua teman Sinta membantu dalam pengemasan produk dan pemasaran. Awalnya produk Sinta dipasarkan ke sekolah-sekolah dan toko-toko cinderamata yang sering dikunjungi turis.
Karena usaha utamanya adalah keripik, maka Sinta memberi nama Istana Keripik pada produknya. Dan untuk menghormati ibunya ia menambahkan nama Ibu Mery di belakangnya, sehingga menjadi Istana Keripik Ibu Mery. Dulu ibunya sering dihina karena miskin dan tak berpendidikan, itulah mengapa ia menambahkan nama ibunya, agar orang tau bahwa nasib orang bisa berubah kapan saja.
Lama-kelamaan Sinta makin yakin bahwa bisnis adalah pilihan hidupnya. Ia percaya bisnis itu akan mengangkat Sinta dan keluarganya dari kemiskinan dan hidup sejahtera. Sinta ingin memiliki rumah karena dulu mereka sering berpindah-pindah dan kini nampaknya impian tersebut telah terwujud. Sinta juga berhasil mengangkat martabat keluarganya dari kemiskinan.

ULET DAN TANGGUH
Ternyata jiwa berbisnis Sinta sudah mulai terlihat sejak kelas 6 SD karena ia tidak ingin putus sekolah seperti kakak-kakaknya, apakah yang dijualnya saat itu? Sama seperti bisnis yang digelutinya sekarang yaitu Sinta kecil berjualan keripik pisang. Otaknya terus berputar untuk membantu keluarganya. Sinta sempat membantu ayahnya bekerja di bengkel teralis besi ketika SMP.
Keuletannya dan ketangguhannya juga terlihat saat Sinta berusaha mengembangkan keripik pisangnya. Ia beruntung karena rumah orang tuanya berada di pinggir jalan, cukup strategis untuk usahanya. Meski begitu Sinta masih harus memikirkan cara untuk mengembangkan bisnisnya, melihat hamir semua daerah dilampung sudah ada kripik pisang. Bagaimana Sinta harus menghadapi persaingan ini agar dapat bertahan bahkan menjadi usaha turun-temurun?
Sinta sadar bahwa ia harus mengembangkan inovasi, salah satu cara yang dilakukannya dengan memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggannya yaitu membiarkan calon pembeli untuk mencicipi keripik pisang buatannya sebelum membelinya. Sinta juga berhasil mengembangkan 9 rasa kripik diluar rasa yang standar. Dengan begitu pembeli dapat memilih rasa yang disukainya. Ada rasa stroberi, cokelat, keju, dan jagung. Selain itu, ia juga mempertahankan kripik dari umbi-umbian lain, untuk menarik pembeli yang mungkin saja bosan dengan kripik pisang.
Kerja keras memang modal utama Sinta. Tapi ia tidak pernah lupa berdoa agar usahanya selalu berjalan lancar. Sinta juga sadar bahwa kekayaannya sekarang bukanlah miliknya seutuhnya. Karena itu, ia rajin memberikan sumbangan kepada orang yang membutuhkan. Sering kali ia memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan di daerah-daerah yang sering ia kunjungi untuk mengambil bahan baku.
Baru tiga tahun usahanya berjalan, ia sudah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi 13 karyawan. Sebagian dari mereka adalah tetangganya sendiri sama seperti waktu dulu ia bekerja pada tetangganya. Meski telah tumbuh menjadi seorang jutawan muda, Sinta tidak berubah menjadi manusia sombong. Ia tetap tampil sebagai wanita rendah hati yang punya segudang mimpi untuk keluarganya tercinta.

sumber : Rhenald Kasali, 2010, "Wirausaha Muda Mandiri, Ketika Anak Sekolah Berbisnis", PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Selasa, 25 Mei 2010

WAHYU ADITYA

DARI HOBI MENGGAMBAR
MAMPU MERAUP DOLAR

MUDA, PINTAR, KREATIF, punya usaha sendiri dan kaya, pastinya jadi impian tiap orang. Karena sering menyaksikan acara TVRI “Gemar Membaca” di era 70-an,sekarang di usianya yang relatif muda, Wahyu Aditya nyaris punya semuanya. Dengan kemampuanya di bidang desain grafis dan animasi, ia menjadi pemeran utama dalam bidang bisnis deasin grafis dan animasi di tanah air. Bahkan ia pun banyak diburu oleh perusahaan kreatif untuk menggarap sederet pesanan iklan. Baik iklan komersial maupun layanan masyarakat.


Titik awal yang membuat nama Adit, sapaanya akrabnya, menggebrak dunia animasi internasional adalah saat dewan juri yang terdiri dari pakar film Inggris menobatkannya menjadi International Young Screen Entrepreneur of the Year 2007. Pada event yang diselenggarakan oleh British Council di Apollo Theatre West End London itu, ia berhasil menalahkan saingannya dari India, Cina, Brazil, Polandia, Slovenia, Lithuania, Nigeria, dan Lebanon. Dewan juri menilai Adit berhasil memadukan kreatifitas, idealisme dan bisnis di usia yang masih muda. Pada usia 27 tahun, ia telah mendirikan sekolah film “HelloMotion” dan memprakarsai festival film animasi “HelloFest!” yang tiap tahunnya menarik 10 ribuan penonton muda di seluruh Indonesia.

Di tengah keterbatasan industri animasi kreatif di Indonesia, Adit dinilai mampu menciptakan peluang pasar sendiri. Beberapa brand pun telah ditanganinya, antara lain PLN, Busway, Kampanye Pemilu, Jakarta International Film Festival (JIFFEST), dan Pertamina.

Tapi siapa Adit sebenarnya? Bagaimana dari seorang yang belum pernah terdengar namanya tiba-tiba menjadi animator level dunia?


KISAH GAMBAR DINDING

Kegemaran menggambar Adit sudah ada sejak ia di bangku SD. Ia pernah menjadi juara lomba menggambar ketika menjadi murid kelas 1 SD Cor Juse 1 Malang. Kegemaran itu pun disalurkan dengan mengirim gambar-gambarnya kepada Tino Sidin, tokoh yang mengasuh acara “Gemar Menggambar” di TVRI. Namun sayangnya, gambarnya tak pernah muncul untuk ditayangkan.

Ketika kelas 6 SD, ia rajin mengisi buku tulisnya dengan berbagai gambar dan cerita. Daripada membeli mainan, ia lebih memilih membeli kertas HVS untuk menggambar. Ia juga rajin mengubah buku tulisnya menjadi majalah dengan menciptakan berbagai ilustrasi sederhana karangannya. Nama-nama tokoh dipelesetkan dari inspirasi di lingkungannya. Ilustrasi itu pun disebarkan ke kawan sekelasnya. Ia mengaku senang bisa menghibur teman-temannya lewat hasil karyanya. Menginjak SMP, ia dipercaya untuk mengelola satu rubrik khusus untuk majalah sekolahnya, yang isinya tentang keadaan sekolah saat itu.

Berlanjut lagi ke SMA. Ia sudah menggambari dinding sekolahnya. Adit mengaku bahwa ia adalah murid pertama yang diberikan izin untuk menggambari dinding. Karir sebagai animator diawalinya dengan menjadi komikus amatir. ‘Korban’ pertamanya untuk membuat strip komik adalah buku-buku pelajaran kelas 3 SMA-nya. Ketika akan kuliah pun anak dari pasangan Sanarto Santoso dan Tri Astuti ini memilih untuk kuliah di tempat yang tidak ada matematika.

Akhirnya Adit berkuliah di Advance Diploma of Interactive Multimedia-KvB Institute of Tech di Sydney, Australia dan memdalami multimedia.Saat kuliah ia sempat 3 kali mengikuti lomba dan sekali menjadi juara pertama. Tiap liburan ia habiskan untuk magang di Indonesia. Pertama kali ia magang di suatu percetakan sablon selama 2 bulan di Malang. Pemilik percetakan malihat karya Adit jauh dari kelasnya. Ia pun mengarahkan Adit agar magang di Broadcast Desain Indonesia di Jakarta Selatan untuk mengamati pembuatan dan teknik editing video.

Selepas kuliah tahun 2000-2002, Adit mengawali karir sebagai cretive desingner & animator di Trans TV. Meski gelarnya sebagai best student si KvB Institute of Tech, ia tidak mau melanjutkan hidup di Negeri Kangguru itu. Dengan alasan ia tidak betah tinggal di Australia.

Selepas dari Trans TV, Adit bekerja freelance selama 1 tahun. Berkat keterampilan dan pengetahuannya yang padat, ia mampu melakukan pekerjaan animator, sutradara, maupun produser. Proyek pertamanya adalah video clip band Padi berjudul Bayangkanlah yang berhasil memenangkan “Best Video Clip of The Month” dan “People Choice Award” di ajang Video Music Indenesia 2002. Sejak itu, Adit dibanjiri tawaran-tawaran.

berikut ini video klip Padi - Bayangkanlah



MERINTIS PERJALANAN KARIR YANG SEPI

Karena keyakinannya pada diri sendiri membuat Adit tidak tertarik pada tawaran bekerja di bawah perusahaan orang lain. Bersama 7 kawannya ia mendirikan perusahaan di bidang jasa. Sayangnya, perusahaan tersebut tidak mampu bertahan.

Kesadaran bahwa hanya pada dirinya sendiri ia dapat bersandar, membuat Adit mengambil langkah yang cukup nekat. Dengan niat agar orang Indonesia tidak bersekolah ke luar negeri, ia meminjam uang sebesar Rp 400 juta untuk mendirikan lembaga kursus animasi. Dengan riset kecil-kecilan yang dilakukan sebelumnya, banyak orang menyatakan berminat bila Adit mendirikan lembaga kursus tersebut.

Tekad itu terwujud melalui keikut sertaanya di pameran pendidikan di Semanggi Expo, Jaksel. Di sana ia menemukan 41 orang yang menjadi murid. Inilah langkah awal didirikannya HelloMotion Inc, School of Amnimation and Cinema. Nama tersebut dimaksudkan agar Adit dapat membuka franchise ke luar negeri.

Setelah berdiri, jalan yang dirintis lembaga ini masih sepi. Modal Rp 400 juta, malah -11% ketika awal berdiri, tahun berikutnya -6%. Tapi kini Adit telah meraup untung 18% per tahun dan hampir 1000-an siswa yang telah diluluskan.

Selain mencari penghasilan, Adit juga membentuk Kementerian Desain Republik Indonesia(KDRI-www.kdri.web.id) yang tujuannya mengubah Indonesia lewat caranya sendiri. Di KDRI, srtruktur birokrasinya sederhana, dimana Adit menjabat sebagai jubir kementerian dan posisi menteri diduduki oleh Mr. Gembol (panggilan masa kecil Adit). Mr. Gembol juga merangkap sebagai kurir KDRI. Meski terkesan lucu, dalam sehari website ini setidaknya dikujungi 1000 orang. Di sini volunteer dari mana pun bisa mengirimkan hasil karya mereka.

HELLOMOTION

Ada yang menarik dari tujuan Adit mendirikan HelloMotion. Pria kelahiran Malang, 4 Maret 1980 ini berkata bahwa animasi di Indonesia masih kalah dari Korea, Cina dan India. Animasi di Indonesia masih tergolong periklananan, sedangkan untuk layar lebar maupun serial TV masih banyak PR yang harus dikerjakan. Ia juga berpendapat industri kreatif dan animasi bisa menjadi lahan subur bila ditekuni dengan baik. Apa lagi hobilah yang dapat menghasilkan uang di bidang ini, tidak seperti bidang lain dimana sebagian orang harus meninggalkan hobi untuk mencari uang. Pada 2004 memang belum ada sekolah animasi di Indonesia, hal inilah yang membuat Adit ingin menggarapnya. Ia yakin dengan mendirikan sekolah animasi, konten animasi lokal di TV akan bertambah dan indusrti animasi lebih maju. Sehingga akan ada banyak warga Indonesia yang kualitas hidupnya dan kesejahteraannya meningkat.

Kini, misi HelloMotion yang menggalakan budaya motion picture art mulai dipertimbangkan di industri animasi Tanah Air.

Dan untuk terus mengembangkan bisnisnya, Adit lebih banyak menggunakan pola Buzz Marketing alias getok tular. Awalnya memang jorjoran lewat iklan di berbagai media. Namur karena dirasa citranya sudah cukup bagus, maka akhirnya ia lebih memilih pola Buzz Marketing. Sekarang, peraih berbagai penghargaan ini tengah mengembangkan tim promosi dan pemasaran. Salah satunya membuat situs www.menteridesainindonesia.blogspot.com

Adit sendiri tak terlalu khawatir dengan persaingan di industri animasi. Karena daftar tunggu untuk peserta kursus sekarang bisa mencapai sebulan di Hello School. Adit juga tak kenal letih menularkan inovasi.


klik di sini untuk melihat profil Wahyu Adtiya

sumber : Rhenald Kasali, 2010, "Wirausaha Muda Mandiri, Ketika Anak Sekolah Berbisnis", PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.